Tampilkan postingan dengan label Tips'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips'. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

Mid-term Test (60’)



Crik! Lembar terakhir telah siap cetak dalam ruang ujian. Tentu hanya di mataku. Semoga berhasil. Untuk kali ini, saja, Tuhan, izinkan aku mencurangi dosen ini. Ia cukup baik dalam kuliahnya. Hanya saja mungkin aku kurang tertarik belajar dengan hafalan copy-paste seinginnya dia. Hingga jariku mengetik tulisan ini, aku akan ceritakan bagaimana seumur hidupku, telah kutemukan diriku seorang penakut! Padahal tinggal membuka file Gallery dalam HP dan nilai akan sempurna. Dalam  Mid-term Test dengan alokasi waktu enam puluh menit.

Untuk hari ini, pukul sembilan lebih lima belas menit, ringan telapak sepatuku memasuki ruangan berkapasitas tiga puluh orang. Yang nyatanya dijejal dengan empat puluh delapan orang tanpa AC. Kuubah kebiasaanku dengan duduk di barisan belakang, demi meluncurkan niat pagiku yang buta.

Mulai duduk menunggu dosen dengan soal ujiannya, kumuntahkan isi tas dengan rapi. Berjejer hand-book mata kuliah yang kududuki ini dengan sebuah novel milik Lang  Fang. Oh, Tuhan, sumpah demi pepohonan di luar sana, aku lebih  memilih melahap isi otak Tuan Fang ketimbang kertas sok penting ini.

Begitu juga kuingat foto-foto lebaran hand-book yang telah kupotret, menjadikan aku seorang pelajar yang tega membungkam kembali tas dengan hand-book itu di dalamnya. Tenang saja, ada file foto. Maka kuhabiskan waktu menunggu laki-laki paruh baya itu dengan membaca Ciuman di bawah Hujan.

Akhirnya ia datang tepat di lembar kesepuluh bacaanku. Teman-teman sibuk menata bangku sambil berbisik-bisik. Nanti bagi jawaban, ya! Nanti jangan pelit! Nanti.. nanti.. nanti. Tak ada kata nanti untuk lembar soal dan jawaban. Soal berisi empat butir dan empat telur pecahan.

Mulailah kususur kata perkata isi soal tersebut. Tuhan, soal macam apa ini? Sama sekali tidak ada dalam file potretku. Asal kalian tahu, ini rahasia! Beberapa kakak tingkatku berkata bahwa bahan ujian yang sering dosen ini keluarkan adalah yang berasal dari otaknya. Jadi sudah pasti apa yang dia katakan. Kucatat tiap perkataannya. Atau mungkin lebih tepatnya, aku meminjam catatan teman. Maklumlah, tulisanku buruk, tak mampu dibaca dalam keadaan normal. Apalagi mencatat cepat.

Jadi kurasa tamatlah sudah ujianku kali ini. Waktu yang diberikan hanya enam puluh menit. Sixty minutes, kata dosenku. Melihat soal-soal ini, mataku merasa bersalah. Terlebih tanganku yang telah tega terbujuk setan dengan memotret hand-book pagi tadi.

Lelah melihat tulisan yang kuanggap asing. Otakku mulai membuka pintu dari batok di bawah rambutku. Menyusur di balik kerudung, lalu menyisir tiap jari teman-temanku yang sok tekun mengerjakan soal. Dengan wajah empat puluh lima derajat, mata kanan pura-pura membaca soal, mata kiri menjorok ke layar BB, i-pad, dan benda canggih lainnya.

Bolehkah aku menyesal lagi? Kali ini aku menyesal duduk di baris belakang. Entahlah, mungkin ini sebabnya aku nyaman duduk di barisan depan. Supaya dikira memiliki jiwa pemimpin, juga aman dari tuduhan menyontek. Nah, menyontek! Benar-benar kapoklah aku duduk di bangku pojok ini. Ternyata tanganku pandai menebus dosa. Sengaja ia rutunkan suhunya hingga beku hingga malas  bertemu HP. Apalagi membuka potret dalam Gallery milikku.

Kaki detik masih terus berlari. Putaran masih banyak jumlahnya. Sebaiknya aku mengaku dosa. Jika dalam hidup kita mendapat ujian sebelum belajar darinya, maka lain halnya dengan sekolah. Pengajar tentu memberi pelajaran terlebih dahulu sebelum akhirnya menguji dengan soal-soal seperti ini. Maka aku dengan licik, sedikit ingin membela diri.

Boleh juga aku anggap ini perjalanan hidup. Bukan perjalanan sekolah. Toh, akhirnya juga sekolah dijalani dalam hidup, kan? Aku akan belajar sekeluarnya kaki dari ruangan ini. Akan kubujuk hand-book dalam mulut tasku untuk menjelaskan apa maksud soal-soal ini. Tidakkah ini cukup menyesal rasanya? Oo, sudahlah, jangan membela diri terlalu jauh.

Kaki detik masih harus berputar sepuluh kali lagi. Masih harus berdetik enam ratus kali lagi. Lembar jawabanku bersih. Hanya ada promosi identitas. Lalu apa yang aku dapat? Sudah kubilang, kan, aku mengaku dosa. Aku mengakui kepengecutan diriku dalam mencontek. Kujilat niat burukku yang ingin mencoba kursi di barisan belakang.

Semakin sedikit putaran kaki detik. Ia berlari dengan rutin. Tik, tik, tik, seperti sintaks suara hujan. Telah kudapati jawaban. Namun bukanlah jawaban soal ujian ini yang ada di otakku. Hasil susurku bukanlah fakta bahwa teman-temanku kehilangkan kepercayaan dirinya dalam menjawab soal. Sehingga harus mengemis jawaban dari bangku kiri, kanan, depan, dan belakang.

Jawaban yang hanya aku pemilik soalnya. Sekolah memang bagian dari hidup. Namun cara menghadapinya tentu berbeda. Seperti Lexical Entailment dalam Semantics siang tadi. Maka, hasil dari ujian ini adalah: aku telah mengenal diriku lebih dalam. Aku akan tetap duduk di barisan terdepan, karena aku memang seorang pemimpin, setidaknya bagi diriku sendiri. Jangan pernah tumbuhkan niat mencontek karena itu bukan sikap seorang pemimpin.

“Okay, time is over. Hand in!” seru dosenku. shit! ops, astagfirullah….

Jumat, 25 Oktober 2013

Mari Menulis Mading dan Bulletin!

Tulisan ini mungkin lebih kepada pengalaman saya sebagai penulis di provinsi kecil ini. Menurut saya, menulis tidaklah sulit. Seperti kata Kiki Sulistyo, salah seorang sastrawan Nusa Tenggara Barat (NTB), “Jika ingin belajar menulis, hanya ada satu cara; menulis, menulis, menulis!” 
Kegiatan menulis adalah menuangkan ide di dalam bentuk tulisan. Ide pun bisa didapat di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Oleh karena itu, sebagai siswa yang cerdas, mulailah merasakan peka terhadap kondisi sekeliling kita. Untuk memancing ide yang kita miliki, baiknya menulis tentang hal yang disukai. Begitu juga dengan pengalaman pribadi dan kegiatan-kegiatan yang pernah dilihat. 
Ada banyak rubrik dan jenis tulisan yang ada dalam dunia kepenulisan. Untuk Majalah Dinding  (Mading) dan Bulletin sekolah, ada beberapa jenis rubrik yang diterbitkan, yaitu: (1) Berita, (2) Opini, (3) Sastra. Dari ketiga jenis rubrik tersebut, terdapat pula beberapa jenis tulisan. 
Berita adalah rubrik yang wajib ada pada mading dan bulletin karena tugas kedua media cetak ini adalah menyebarkan informasi. Ada dua jenis berita yang cocok untuk keduanya, yaitu Straight News dan Feature. 
Straight News (SN) adalah jenis tulisan berita paling ringan namun sangat padat informasi. Dalam SN, isi berita di dalamnya harus mampu menjawab  pertanyaan  umum dari pembaca ketika berita itu diterbitkan, yaitu: What, Why, When, Where, Who, How (5W+1H). Ingat, usahakan tidak ada lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh pembaca karena kekurangan 5W+1H. 
Tidak seperti SN, Feature ini lebih seperti menceritakan berita dengan gaya menulis cerpen. Biasanya berita di dalamnya, selain menulis unsur 5W+1H, juga menyisipkan banyak informasi tambahan. Antara Feature dan SN dapat dibedakan dengan  melihat panjang berita. Feature jauh lebih panjang dari SN. 
Selain dari berita, mading dan bulletin pun menyediakan rubrik opini, tentu yang berisikan tulisan sejenis opini. Opini adalah tulisan yang mengandung gagasan dan pemikiran. Selain itu, opini biasanya membahas masalah yang berkaitan dengan sosial masyarakat. Jika mading dan bulletin ini berada di lingkungan sosial sekolah, maka opini yang cocok adalah opini yang berbicara mengenai sekolah. Namun tidak salah  juga bila membicarakan hal-hal umum di luar sekolah seperti masalah kemacetan di pusat kota, curanmor di sekitar rumah, dll. 
Rubrik yang paling menarik dari semuanya adalah rubrik sastra. Dalam rubrik ini pun ada dua jenis tulisan umum yang menjadi favorit, yakni Puisi dan Cerpen. Saya rasa kedua jenis tulisan ini sudah akrab di telinga penggiat mading dan bulletin. Ini adalah jenis tulisan yang tidak hanya sebagai ruang apresiasi tapi juga menjadi nilai tambah karena penulisnya mampu menuliskan ide-ide dalam bahasa sastra yang halus, dan mau menerbitkannya untuk dibaca orang lain. 
Selain dari ketiga rubrik tersebut, ada pula rubrik tambahan yang mungkin bisa menjadi ruang informasi yang menyenangkan. Rubrik tersebut ialah Resensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Resensi adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku (majalah itu memuat), (buku-buku yang baru terbit). Namun saat ini, tidak hanya buku yang menjadi ulasan resensi, ada pula film dan gadget terbaru. 
Menarik kesimpulan dari semuanya, saya hanya ingin memperkenalkan beberapa rubrik dan jenis tulisan yang  wajib ada dalam mading dan bulletin. Selebihnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas. Inilah salah satu skill (keahlian) atau kelebihan yang dimiliki anggota mading dan bulletin. Sebuah kreativitas akan mengubah pola pikir manusia. Sehingga bila pola pikir tersebut dapat diarahkan ke arah yang positif seperti kegiatan mading dan bulletin, maka akan terciptalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif dan berdaya saing. Mari menulis mading dan bulletin!

Minggu, 20 Oktober 2013

LDR? Siapa Takut!

Okay, world, actually ini adalah pelarian dari ketidakmampuan otak saya mengerjakan tugas Morphology dalam kurun waktu beberapa jam sebelum dikumpulkan (sedangkan kaki baru berpijak di Mataram sekitar satu jam yang lalu).
selain itu, tulisan ini juga buah pikiran yang berhasil saya kumpulkan dan rumuskan di dalam pesawat Surabaya-Praya. daripada memplototi awan-awan mendung yang cenderung merangkul hati untuk galau, maka ada baiknya saya tidur dan memungut ide-ide dalam lamunan.
judul kali ini bertopik tentang Long Distance Relationship (LDR). berdasarkan pengalaman pribadi *uhuk!*, LDR tidaklah mudah dijalankan. jangankan pasangan yang masih  pacaran/tunangan, yang sudah menikah saja kadang masih sering terjadi cekcok.
namun, setelah lama merenungi perjalanan cinta saya yang tidak berhasil karena LDR (walau sebenarnya bukan sepenuhnya LDR penyebabnya *curcol*), lalu berfikir, dan membaca beberapa buku dan artikel (entahlah, saya cukup tertarik untuk melakukan penelitian kecil) akhirnya saya mengerti mengapa LDR ini begitu sulit dijalani. dan hasil dari penelitian kecil inilah saya merumuskan beberapa tips agar LDR menjadi lebih mudah dan menenangkan.
  1. KOMUNIKASI TIDAK ASAL KOMUNIKASI! okay, yang ini pasti sudah jadi rahasia umum, ya. tapi jangan pernah menganggap enteng yang namanya komunikasi. berhubungan jauh ini, tidak sekedar telepon, sms, chating via social-media, dll, tapi juga pengertian batin dari masing-masing pasangan. maksudnya, ini sedikit berkaitan dengan kepentingannya si pasangan. untuk apa pasangan meninggalkan Anda jauh-jauh? jika untuk melanjutkan sekolah atau urusan pekerjaan, tentu kita sebagai pasangan harus mengerti jadwal apa saja yang akan dilaluinya. jika pada jam-jam tertentu si empasangan sedang sibuk, jangan keluarkan sejata ngambek atau lapor-lapor  ke ortunya. nanti yang ada malah saling curiga dan berantem! percaya nggak percaya, ini lebih sering disulut oleh perempuan (walaupun saya sendiri perempuan, dan saya akui itu). sifat alami perempuan dan laki-laki sangatlah berbeda. jangan pernah samakan pola pikir kita dengan  pasangan. that's why, I suggest you to take his/her schedules when he/she are going to leave you. seperti yang pernah saya baca di salah satu buku karangan John Gray, Ph.D, seorang doktor terapi pernikahan, ia menyatakan bahwa laki-laki itu seperti karet gelang dan wanita seperti gelombang di lautan. mengapa demikian? karet gelang sejatinya tidak akan melar lebih dari lebar maksimumnya, jadi wanita tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu pasangannya tidak mengangkat telpon atau lama membalas sms, bisa saja pada saat itu ia sedang sibuk dengan aktivitasnya atau sedang menikmati masa jauhnya. dengan ini, ia akan merasakan rindu yang sangat dalam pada Anda saat pulang! (ahahaa... jadi ingat lagunya Omm Rhoma Irama). wanita pun demikian adanya jika dilihat dari sifat gelombang air laut. memang sudah menjadi kebutuhannya untuk terus bercerita pada pasangannya. jadi kaum laki-laki, tak perlulah merasa bersalah jika tiba-tiba pasangannya mengomel macam-macam, kalian hanya perlu mendengarkan dengan penuh perhatian, setelah itu, ia akan segera tenang dan kembali dengan penuh cinta pada  Anda (halaah...). tidak masalah saling memberi kebebasan berkegiatan selama tidak sedang bersama. daripada galau di depan layar HP/laptop? bukankah hubungan yang baik itu saling mendukung pribadi masing-masing? lakukanlah kegiatan potensi Anda! jangan takut untuk meminta izin atau mengizinkan pasangan untuk melakukannya. wanita butuh jaminan setia dari  laki-laki, dan laki-laki butuh kepercayaan dari wanita. ingat! komunikasi yang baik adalah tahu kapan menghubungi dan saling percaya. just say, "I will be back to you," and everything will be okay.
  2. PAHAMI SIFAT BAWAAN  PASANGAN. ini  menjadi hal penting karena hanya masing-masing pasangan yang perlu tahu. bukankah kalian orang yang istimewa? maka jangan ragu untuk saling bercerita tentang sikap, sifat, dan kebiasaan Anda pada pasangan. senejata ngambek dapat diredam dengan ini :) jika sudah saling memahami sifat bawaan pasangan, minimal kesalahpahaman akan berkurang dan kecurigaan pun dapat ditepis.
  3. SILATURRAHIM KELUARGA. hayoo... yang sudah tentukan tanggal pernikahan >,< hahaai.. ini tak kalah penting karena kata mamak saya, "Jangan berfikir untuk mencintai dan memiliki laki-laki seutuhnya tanpa mencintai keluarganya juga." menjaga silaturrahim juga berfungsi sebagai rel informasi dan saya rasa poin ini sudah cukup jelas :D
  4. GENGGAMLAH TANGAN TUHAN. inilah tindak tanduk tertinggi dari segala alam. sebaik-baiknya kita membina hubungan, sedekat-dekatnya kita dengan keluarga pasangan, tetap saja Tuhan yang menjadi garda terdepan untuk tiket restu pernikahan. maka jangan pernah lupakan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam membina hubungan kasih. jodoh ada di tangan Tuhan, oleh karena itu, genggamlah tanganNya dengan nama kekasih di telapak tangan. :) dan saya yakin poin ini pun telah jelas.
yeah, inilah surat hasil perjalanan dari Semarang-Surabaya-Praya yang dapat saya bagikan. semoga bermanfaat dan menjadi pintu pemikiran yang lebih luas dalam membina LDR. jangan pernah takut untuk LDR. jika memang cinta, kenapa harus takut? so, LDR? siapa takut!