Tampilkan postingan dengan label Darah Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Darah Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Sebelum Mandi

Adalah bukan lagi jamannya kita membandingkan isi dari setiap anak di dalam rumah. Sudah bukan waktunya kita sombong dengan piala dan piagam di dalam lemari. Membuat saudara iri satu sama lain dan merasa tidak disayang. Bukan.
Ibuku memang pandai. Termasuk kuat dalam mengurusi tiga anak dengan bawaan berbeda. Namun ada kalanya ia meringkuk di pojok kasur dengan tetesan lelah di wajahnya. Entah suaminya ikut menemani atau tidak. Sosok kuat itu rasanya tetap duduk manis di samping Tuhan. Tanpa kita tahu, ia datang atau tidak.
Serupa ia, aku ingin duduk di samping ibu. Merangkul pundak dan mencium kakinya. Jika tidak dapat kutuang isi otakku untuk ditukar dengan lelahnya, maka cukup tanganku hangatkan bahunya. Yah, tetaplah beda aku dengan ayahku. Intimnya berbeda. Anak tetaplah anak. Kemesraan keluarga dengan kemesraan pasangan tentu ber-level. Aku yang telah berkekasih ini cukup paham.
Pun adik perempuanku yang beranjak remaja kini mulai pandai berpikir. Ia rajin menyendiri di kamar, kadang pulang pukul sepuluh malam. Mulai pandai mengurus rumah, syukurnya belum lihai bersolek. Sebagai kakak perempuan, aku mengenal fase-fase umurnya. Tidak ingin dikekang. Harus dihalus-halusi.
Dan inilah bom waktu di rumah. Warisan ayah paling sadis. Anak kesayangan yang membuatnya rela gopoh-gopoh menahan asam urat di kaki kirinya demi mengawal ibuku melahirkan. Adik laki-lakiku. Laki-laki sendirian, namun manjanya bak lima perempuan labil. Entah salah asuhan atau lingkungan. Seingatku, kami bertiga diasuh dengan metode yang sama. Tapi mungkin ia lebih gagal karena tanpa ayah.
Ayah, sudikah kau berbisik pada Tuhan agar kami berempat cepat bergandeng di sisimu juga? Kami lelah. Rasanya kami lelah. Darah tinggi serasa rendah. Rendah serasa tinggi inginnya  marah-marah. Anak kesayanganmu selalu berulah. Membuatku tidak betah di rumah. Pun mungkin adik perempuanku. Tapi rasanya tidak ibuku. Isterimu yang paling kuat. Paling tangguh menghadapimu dulu.
Malam ini, ia jual telepon genggamnya yang minggu lalu ibu belikan untuknya. Umurnya dua belas tahun. Kudengar di siaran berita radio, anak usia itu sudah boleh ber-handphone. Jadilah ibu membelikannya untuk ber-halo-halo dengan kami. Ibu bekerja pagi hingga sore. Anak-anak berkegiatan pagi hingga malam. Maka kami semua harus menggenggam handphone.
Malam ini aku memukul adik laki-lakiku lagi. Baru sedetik kurasa dinginnya air kamar mandi,  kusambar handuk lalu melaju ke ruang depan. Entah. Kutampar dan kuceramahi dengan isakan tangis spontan. Ibuku diam. Adik perempuanku terus menggiling sambal tomat untuk makan malam kami. Mandiku tak tuntas. Tangisku pecah serupa anak umur empat tahun yang ketahuan mencuri mangga tetangga.
Ibuku masih diam. Tak kuasa lagi bercucur kata. Kami diam. Adik laki-lakiku memalingkan muka. Telepon genggam itu dijualnya seharga lima puluh ribu. Rupiah. Untuk apa, kami tak tahu. Ia tak mau kembalikan itu. Ibuku lelah. Bisik istigfar bibirnya seirama dengan isak tangisku. Jika tidak sedang berhanduk, mungkin kaki ini tak segan-segan menabrak otak dungu adikku yang laki-laki ini.
Namun, dari mana ia warisi kedunguan itu? Entah. Aku tak mau tahu untuk saat ini. Aku harus kembali ke kamar mandi. Basuh mataku yang malu dan tuntaskan mandiku. Air di bahu telah kering. Pipiku tetap basah. Pula asin.
Sebelum mandi, aku sempat memesan pancake durian untuk dimakan ramai-ramai. Sama-sama mencicipi kudapan asal Medan itu rumah. Kuhitung sisa beasiswa dengan rapi, supaya jalinan mesra yang coba kubangun dalam keluarga ini bisa menjulang. Terlalu mimpi, memang. Tapi peduli setan. Aku ingin merasa lebih cinta pada keluarga. Jangan durhaka. Jika cinta kekasih, lantas tak cinta keluarga. Tidak boleh.
Sialnya, anak laki-laki ini berulah lagi. Merusak mimpiku dengan menjual telepon genggam barunya seharga lima puluh ribu. Rupiah. Rupiah. Untuk apa, kami tak tahu.
Uang bisa dicari. Ilmu bisa digali. Tapi mana yang lebih kekal, sudah rahasia umum. Remah-remah otakku untuk membangun keluarga bahagia tanpa ayah selalu berhasil digubrisnya! Dia anak kesayangan ayah. Tapi. Tapi tidak sayang ayah!
Siapa yang tahu isi hati orang. Dalam buangan mukanya saat aku ceramah sambil memukul, siapa yang tahu isi otaknya? Ayah, kau sedang duduk di samping Tuhan. kata orang, hanya Tuhan yang tahu isi hati orang. Sudikah kau bertanya padaNya? Kau tahu maksudku.
Jika uang menjadi tujuan lima puluh ribu itu, dimana salah asuhnya ibuku? Lingkungan? Mari salahkan lingkungan. Kami pun besar di lingkungan yan hampir sama. Namun entah generasi apa yang ada sekarang, rahasia umum. Kami butuh ayah.
Kami butuh tamparan keras dari ayah saat orang-orang di lingkungan mencoba membodohi kami. Ibu hanya tegas. Tidak keras. Kalian saling melengkapi. Dulu aku ingin sekali ayah mati. Kini Tuhan mendengar, dan aku mendengar inginku sendiri. Mati disesali mati. Aku ingin ayah jangan mati.
Kini tugasmu ada di pundakku. Namun sekali lagi, kemesraan aku dan ibu tak se-level kemesraan ayah dan ibu. Percayalah. Kini anak kesayangannya telah salah asuhan. Lingkungan tak lagi mampu dibendung karena keras tak lagi ada. Kami  mengasuhnya sendiri-sendiri. Serupa dosen dengan pahamnya masing-masing saat mengajar di kelas. Begitulah mungkin rasanya. Maka, tidaklah pantas kami menyalahkan lingkungan. Asuhan haruslah seiya-sekata. Asuhan orangtua tidak se-level asuhan saudara.
Sebelum mandi, aku merancang rencana manis untuk keluarga kecil ini. Sebelum mandi, salah satu anggota keluarga ini berulah. Aku mandi dengan isakan bodoh menghujam diri. Mengutuk ketidakpandaianku mengasuh adik. Anak kesayangan ayah. Aku keluar dengan handuk sesal berwarna merah jambu. Warna yang paling tak kusuka! Setelah mandi, kutulis kisah beberapa  menit yang lalu. Dengan harapan ketikkan ini ditukar dengan uang lima puluh ribu. Akan kubeli telepon genggam adik laki-lakiku kembali. Anak kesayangan ayah.

Minggu, 24 November 2013

Belajar dari Mamak

"sementara hari terus berganti 
engkau pergi dengan dendam membara 
di hati.."
sepenggal lirik lagu dari musisi gagah, Iwan Fals.

sebenarnya ini tulisan yang tak perlu diberi judul. keluhan lebih tepatnya. pernahkah kalian memberi judul pada umpatan dan keluhan atas otak dan hari-hari kalian?
ini ditulis ketika saya sedang haid. PMS menjadi musuh terbesar karena ia selalu membunuh hasrat saya dalam menyulam ide-ide. sangat pandai menyuburkan rasa malas. jadilah ide-ide saya berserakan dan tertumpuk di otak sampai akhirnya dilupakan. sungguh menjijikkan!
saya membenci sifat buruk ini. saya tidak ingin sifat emosional dan introvert seperti ini yang mengaliri darah. tidakkah kalian jengah jika berada di dekat saya? saya saja malu dengan onggokkan otak ini. apalagi teman-teman sebagai penonton atas kalon saya.
mungkin saya hanya lelah dengan segala kesibukkan. jenuh dengan kekasih yang juga mulai jenuh dengan saya. ketidakbahagiaan ini mungkin terlalu berlebihan jika saya keluhkan.

dari semuanya, yang tidak mungkin saya tuang semua, yang hanya beberapa saja, sebisanya, begitulah. hanya satu penguatnya: telapak kaki ibu. teori kasih sayang ibu. hanya memberi, tak harap kembali.
saya harus tetap mencintai kesibukkan yang telah membesarkan nama saya. yang telah membantu saya mewujudkan cita-cita.
saya harus tetap mencintai kekasih saya. meski saya kerap harus menangis di punggungnya karena ia sedang jenuh. meski saya harus mengambil alih posisinya sebagai pemimpin dalam hubungan. karena Tuhan tahu saya lebih kuat secara batiniah.
saya harus belajar dari mamak yang kuat. sangat kuat. sangat mencintai kesibukkannya. sangat  mencintai suaminya yang sedang duduk menatapnya dari langit. sangat telaten merawat bocah-bocahnya yang mulai banyak akal. sangat pandai mengartikan 'hanya memberi, tak harap kembali.'
mak, Iing minta maap..

Selasa, 29 Oktober 2013

Di Balik Tirai Kegombalan

memiliki kekasih seorang populer bukanlah perkara mudah. begitu banyak sayatan cemburu dan jengkel yang harus diperam dalam-dalam setiap hari. namun, jangan sampai hanya karena hal itu, lantas kaki mundur dan meninggalkan dia yang dicinta. begitupun dia yang mencintai kita.
saya, bersama seorang laki-laki bernama lengkap Maulana Rosihan Islam, telah menjalin hubungan kasih selama setahun. Rossi, atau saya biasa akrab menyapanya dengan 'Abang', adalah salah satu tipe laki-laki populer yang banyak dilirik perempuan. bukan bermaksud meninggikan apalagi sombong. dia memiliki kharisma, ya, saya sebut itu kharisma. karena memang itulah yang ada pada tutur katanya. kemampuannya mengolah kata di depan perempuan hingga mereka merasa disanjung serasa ratu, namun tidak begitu maksudnya.
lama saya perhatikan sifat dan sikapnya ini. saya sadar, itu salah satu kelebihannya sebagai laki-laki. sebagai kekasihnya, haruslah saya mengerti dan pandai menjaga emosi jikalau ia berlaku seperti itu di depan saya. benar-benar kesabaran tingkat lutut. mengapa lutut? karena hari-hari yang saya lakukan tidak sepeti pasangan Primus dan Jihan Fahira di televisi (meski kami cukup terkenal di kampus sebagai pasangan aktivis *uhuk!*), kami bukan Habibi dan Ainun yang hubungannya diwarnai ilmu pengetahuan. jadi tidak begitu selevel lah jika terlalu tinggi. hehee
sering saya merasa bahwa ia memanfaatkan sifatnya yang seperti itu. berlagak gombal di depan orang lain. sedikit mencandai saya seperti teman laki-lakinya, juga seperti tidak menganggap saya ada di saat sedang mengobrol dengan perempuan lain. benar-benar panas hati saya saat itu. ingin rasanya menjauh sejauh-jauhnya dan tidak mengenalnya lagi sebagai pasangan. sering. sering sekali. tapi, jika ingat bapak (orangtua si Abang) yang begitu baik dan welcome menerima saya, rasanya seluruh kegeramman ini menguap tanpa asap. saya selalu rindu pada mamiq di mana saja. dan kehadiran bapak, sedikitnya mampu menghadirkan kehangatan seorang ayah dalam hari-hari saya. semoga ini memiliki ujung yang baik. kugenggam tanganMu, Tuhan..

siklus kecemburuan saya sebenarnya tidaklah terlalu rumit. saya hanya tidak suka jika ia membiarkan saya menahan bara iri ini dalam diri terlalu lama. lelah dengan ketidakpekaannya, saya ceritakan hal ini padanya. ia hanya berkata, "Jangan mikir macam-macam. Abang ini miliku, and you are mine." diakhiri dengan cubitan di pipi, lalu berlalu begitu saja. dan, sikapnya tidak berubah. tetap saya ramah pada perempuan. tetap serupa gombal dan membuat mereka melayang-layang setiap mendengar suaranya yang renyah.
dan untuk siang hari tadi (29/10), saya hampir menangis haru mengetahui suatu kenyataan dalam dirinya. dibalik ketidakpekaannya terhadap kecemburuan saya, kegombalannya di hadapan yang lain, ia benar-benar menatap dan memiliki hati ini. mungkin bagi orang lain, ini hal kecil, dan hal kecil inilah yang saya inginkan darinya. ia menyimpan rapi foto-foto kami dengan folder khasnya ia  memanggil saya; "my Baiq"
berputarlah seluruh kenangan dari awal bertemu, hingga detik ini saya menulis. dibalik acuhnya ia di depan orang lain, ia tetap  menggandeng tangan saya di belakang punggungnya. dalam ketidakpeduliannya yang saya anggap tidak romantis ataupun tidak perhatian, ia diam-diam menjadi 'tim infestigasi' dan sayalah berita kriminalnya.
selama ini, di balik tirai kegombalannya, ia selalu membisikkan cinta pada setiap indera yang menyusun raga Baiq Ilda Karwayu. kini, apa saya masih merasa cemburu? Hmm... ia terlalu 'terbuka' untuk dicemburui.
I am a man,
who sees,
the shadow in your eyes..
^_^

Minggu, 27 Oktober 2013

Menjelang Sumpah Pemuda

 Malam ini. setelah membaca dua BAB bahan UTS Morphology esok hari, mata saya terlambat dijemput mimpi. bola-bola ini kembali melebar kerana diskusi online bersama kawan-kawan UKPKM MEDIA Unram via sos-med. kami membahas pemberlakuan jam malam yang katanya akan mulai berpatroli pada 1 November 2013.
lalu berbagai statement dan buah pikiran terketik dalam kotak comment. begitu banyak, begitu lugas, begitu panjang. entah hati lelah atau tangan mulai keriting. saya membuka tautan baru dan mengetikkan alamat blog ini. saya lelah ber-vocal pada ranah diskusi. saya takut, ide-ide yang keluar dari otak melalui mulut ini tidak mampu dipertanggungjawabkan sepenuhnya. hingga Tuhan masih berbaik hati memberi nafas pada saya, apalah arti sebuah lidah yang diam?
kini cobalah untuk duduk dan berfikir. segala permasalahan yang kita diskusikan, segala kebijakan yang kita tentang atas nama mahasiswa, bisakah sebelum melakukan itu, kita tenang dan melakukan analisis mendalam? bukan berarti kita harus diam, berfikir, lalu terlena dan akhirnya lupa. mari bergerak! namun tidak dengan kaki yang gegabah hingga terperosok lumpur jebakan birokrasi!
kita banyak tahu. kita banyak mengumbar cerita tentang kebijakan buruk pada mahasiswa lain, terlebih pada yang tidak mau tahu. sungguh, saya lelah. saya merasa bersalah telah banyak bicara. harus saya biarkan mulut ini menikmati masa istirahatnya. jikalau ini bukan waktu yang tepat, saya akan tetap ber-vocal. namun tidak dengan mulut. saya akan mencari tahu kebenaran, mendengar diskusi-diskusi, lalu menulis. saya akan menulis!
demi 28 Oktober 2013 esok hari. saya ingin meminta maaf pada pemuda pejuang 28 Oktober 1928. janganlah saya menjadi orang yang berseberangan dari mereka. karena jika demikian, saya pantas disebut penghianat pemuda! pemuda Indonesia haruslah yang cinta tanah air. yang menguasai Bahasa Indonesia. yang rela mati membela bangsanya. harapan saya, lagu Darah Juang, pun Mars Mahasiswa tidak luntuk dari hati. juga do'a orangtua dalam tujuan utama mereka menyekolahkan saya di jenjang perguruan tinggi. saya harus menjadi orang Indonesia yang baik!
namun, saya masih lelah berbicara yang terkadang kosong. di kamar ini. di rumah ini, hanya ada tiga anak dan si sulung sedang menunggu ibunya pulang. ayahnya memantau dari kaki Tuhan. dan saya menangis dengan diam dalam situasi ini. karena saya telah berjanji pada mulut, ia akan memiliki waktunya dalam peristirahatan sementara.
sekian. saya lelah..

Kamis, 17 Oktober 2013

Wake Me Up, Please..

Okay, setelah lama menjalani 'hiberanasi', akhirnya blog ini bersih kembali. sekitar empat tahun lalu, dengan berat hati saya memutuskan untuk menutup akun ini. seluruh postingan pun telah terhapus. hahaa.. tentunya dengan banyak pertimbangan yang menurut saya, pada saat itu, menutup akun adalah jalan terbaik.
Kini, rasanya lumayan kangen menulis surat kembali. meski tulisan lainnya telah tertoreh di media massa, sensai menulis di blog tentu berbeda. jika semasa SMP-SMK, blog ini isinya hanya keluhan dan curhatan tentang sekolah dan cinta *ups*, sekarang mungkin akan lebih 'waras'. semoga..
Lalu, hubungannya dengan judul di atas apa? tentu ada. selama saya merasakan dinginnya hibernasi, begitu banyak proses yang terjadi di otak kusut saya ini. entah itu peningkatan, bahkan penurunan seperti sekarang..
Bagaimana seorang penulis amatiran yang bermimpi untuk profesional mampu menapaki jejak pembawanya. pun banyak ide yang ingin disampaikan, namun jika musuh tergendut mulai muncul; RASA MALAS dan MINDER, segalanya kembali ke titik nol. suasana kembali normal, senormal kehidupan Squidword. alangkah merugi hidup saya jika hal itu terus terjadi. dan tidak bisa dipungkiri, kegilaan hebat akan saya dapatkan jika tidak segera diatasi.
Maka, teruntuk segala inspirasi saya, tetaplah menari dengan cantik. I miss you..