Minggu, 19 Juli 2015

Kreativitas Menulis Siswa: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari



Senin yang bijaksana untuk merefleksikan pendidikan dewasa ini. Seperti yang sudah-sudah, kegiatan menulis masih saja menjadi momok yang berat untuk dijadikan suatu budaya positif; baik di kalangan pekerja maupun di kalangan pelajar.
Membaca berita Suara NTB (8/6)—agak telat, memang—dalam Kolom Pendidikan: “Rendah, Kreativitas Menulis Siswa”, membuat saya kembali meringis akan kenyataan yang masih saja dianggap biasa oleh masyarakat, terutama para pengajar. Sudah banyak penulis, pemerhati pendidikan, sastrawan, dan kelompok masyarakat lainnya yang menyuarakan budaya menulis. Banyak mengadakan pelatihan serta lomba-lomba menulis. Namun hal tersebut dirasa masih kurang greget untuk membangkitkan kreativitas menulis siswa.
Senada dengan ucapan Kepala Kantor Bahasa NTB yang terlampir dalam berita tersebut, Dr. Syarifudin, mengatakan bahwa kemampuan menulis siswa berbanding lurus dengan kemampuan mengajar Bahasa Indonesia para pengajar di sekolah. Jika dipantau dengan teliti, hal tersebut benar adanya.
Banyak guru yang menuntut siswa di kelas harus pandai menulis esai, cerita pendek (cerpen), puisi, resensi buku, dan banyak lagi jenisnya. Akan tetapi mereka lupa bahwa keteladanan justru muncul dari mereka. Sehingga secara tidak langsung, kinerja guru dalam mengajar tercermin jelas dari belum pandainya para siswa menuangkan ide-ide mereka ke dalam tulisan karena guru mereka pun mencontohkan hal yang sama.
Fungsi LPTK Dipertanyakan
   Di sini, saya teringat akan lembaga tempat saya kuliah yang notabene adalah gudangnya pencetak guru-guru. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) adalah sebuah lembaga yang bertujuan mencetak tenaga pendidik. Dalam lingkupnya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di setiap Perguruan Tinggi (PT)—baik negeri maupun swasta— dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), juga Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), bertanggung jawab penuh dalam membentuk calon-calon guru di negeri ini.
Lantas, yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah kurikulum di LPTK tersebut telah memenuhi kebutuhan para calon guru untuk mengajar siswa kelak? Kurikulum LPTK dievaluasi setiap lima tahun sekali. Para ketua jurusan dan ketua program studi (prodi) bertugas mengkaji ulang setiap kurikulum yang telah mereka jalankan; apakah telah sesuai dengan kebutuhan masa depan ataukah telah ketinggalan zaman.
Sebagai contoh saat ini, tujuan guru Bahasa Indonesia untuk membuat siswanya mampu menulis ternyata belum ter-cover oleh LPTK. Bukti nyatanya adalah berita Suara NTB halaman 13 ini. Jikalau sudah tercapai, tentu wartawan tidak perlu bersusah payah meliput hal tersebut. Oleh karena itu, rasanya kita semua—calon guru, guru, pihak pengelola kurikulum, serta masyarakat—perlu bekerjasama dalam meloloskan tujuan mulia ini: meningkatkan kreativitas menulis siswa untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Menumbuhkan budaya komuniskasi intelektual di kalangan terpelajar seperti harapan Ki Hajar Dewantara kala memperjuangkan pendidikan Indonesia.
Terlebih, kini kita perlu bersorot ke calon guru semasa kuliah. Bagaimana mereka mampu memantapkan diri untuk kelak menjadi seorang guru. Menyalurkan ilmu—dalam Islam—adalah amal jariyah, yang artinya akan terus mengalir hingga penyalur ilmunya wafat. Hal tersebut penting dilakukan karena dampak yang akan didapat sangatlah besar. Bisa kita bayangkan jika LPTK hanya menjadi “batu loncatan” untuk mendapatkan gelar, sehingga yang terisi di lembaga ini hanyalah orang-orang yang sama sekali tidak ada niatan  menjadi guru.
Maka wajarlah jika cetakan yang keluar dari sini adalah mereka yang tidak mau tahu tentang materi ajar, metode didik, serta hal-hal lainnya yang menjadi poin penting dalam mendidik siswa. Terlebih mengajarkan hal yang sifatnya praktik: menulis, olahraga, musik, tata krama, dan lain-lain. Demikian daripada itu, perlu dipertegas oleh pihak pengelola LPTK untuk menyaring ketat calon mahasiswa yang memang bercita-cinta menjadi guru. Jika hal tersebut tidak mampu dilakukan oleh LPTK, maka keberadaannya perlu dipertanyakan.
Sebuah Praktik mengalahkan 1000 Teori
Salah seorang kawan saya—sarjana pendidikan—kini mengajar Bahasa Indonesia di sebuah sekolah favorit di Selong Lombok Timur. Ia, selain sebagai seorang guru, juga dikenal sebagai seorang penulis. Banyak tulisannya yang sering dimuat di media cetak; antara lain opini, esai, dan cerpen. Saat  masih menjadi seorang mahasiswa, ia pun rajin menulis naskah lakon.
Saya sangat mengagumi setiap tulisannya. Di sekolahnya kini pun ia aktif membina kegiatan siswa di bidang teater dan kepenulisan. Saya berfikir, hal tersebut tentu tidak ia dapatkan dengan proses yang sebentar. Rekam jejaknya dalam menulis membuatnya menjadi orang kepercayaan dalam membina siswa. Di kelas pun ia disegani karena terbukti tidak sekedar mengajar menulis, tapi juga mencontohkan kepada para siswa bagaimana menulis yang baik.
Inilah goal yang diinginkan pendidikan kita. Seorang individu guru yang mampu menjadi contoh dari tujuan pendidikan. Akan tetapi, tidak kita pungkiri, masih banyak gkuru yang meremehkan pendidikan. Sekedar masuk kelas, menjelaskan materi sesuai dengan isi buku, memberi tugas, lalu pulang. Tidak ada bekas ilmu kehidupan yang disampaikan secara cair dan terbuka. Semua berpatokan pada buku. Tidak ada tutorial yang mampu mengajarkan seseorang untuk mahir dalam satu kali praktik. Seribu teori menulis yang dijabarkan oleh para guru akan lenyap dengan mudah ketika guru tersebut tidak mampu menunjukkan satu praktik pun kepada siswanya.
Lain halnya jika menulis diajarkan dengan lebih mengedepankan praktik menulis setiap jam ajarnya. Siswa yang setiap hari membaca tulisan milik gurunya, apalagi tulisan yang terbit di media cetak, itu akan menjadi pecut sakti memotivasi mereka untuk ikut menulis. Percaya atau tidak, para siswa tidak akan pernah melupakan guru yang telah menginspirasi mereka dalam belajar. Guru yang telah memberikan pelajaran hidup yang aplikatif tidak akan pernah hilang dari hati siswanya. Mereka akan terus menyelimuti guru mereka dengan rasa terima kasih juga doa-doa.
Akhir dari tulisan ini, saya menyimpulkan bahwa tugas guru sebagai seorang pendidik tidak boleh dianggap remeh. Kemampuan mendidik harus ditempa sejak menjadi mahasiswa di LPTK. Pihak LPTK pun bertanggung jawab atas isi kurikulum yang menjadi bekal calon guru dalam mendidik siswanya kelak. Harus ada keselarasan di antara keduanya. Oleh karena itu, jika guru telah mampu membangun budaya menulis kreatif dalam dirinya, maka tidak akan sulit bagi mereka untuk menempa siswa-siswa mereka. Senada dengan pepatah, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Happy Birthday, Ilda!



Yeah, this was the late post—at least my desire to write this moment is still lovely burned. I’m 22 now. Tuhan, umur darimu berkurang lagi satu. Ini adalah refleksi diri yang serius. Di umur segini, belum punya pekerjaan tetap—masih serabutan—belum wisuda, belum menikah, rasanya agak “lelet” dalam menjalani hidup. Oleh karena itu, momen ini sangat pas untuk menyusun jati diri.
Tidak ada kado di hari itu. Ibu dan kekasihku cukup banyak berdoa untuk masa depanku. Kami berkumpul di rumah dan melakukan apa yang telah  kami rencanakan jauh-jauh hari: memasak! Ibuku yang merasa “merdeka” karena hari itu bebas dari dapur, sama sekali tidak beranjak dari depan televisi. Akhirnya kami berdua yang sibuk memilah bumbu, pergi ke pasar, dan memasak di dapur. Kami membuat kue serikaya—yang konon adalah makanan khas raja-raja Taliwang kala itu. Makanan manis berbahan dasar telur ini memang nikmat! Singkatnya, meski belum sempurna, karena itu kue pertama kami, tapi rasanya tidak mengecewakan. Aku menganggap itu kado terindah tahun ini. Kenyataan ia lebih pandai memasak dariku telah jelas terlihat di dapur ini. Benar-benar menguntungkan. Hahaa…. #dilemparbaskom
Tapi, yang terpenting untuk tahun ini bukanlah itu. Bukan. Itu hanyalah kebahagiaan kecil yang Tuhan lampirkan atas kado yang aku butuhkan. Lampiran surprises dari kawan-kawan Pena pun sebenarnya adalah porses dari kado Tuhan ini sendiri: perbanyak mendengar, kurangi bicara banyak.
22 tahun ini, aku telah banyak melalui tahapan hidup, menjalani banyak proses pencarian jati diri sehingga inilah aku sekarang. Akan tetapi, satu yang menjadi permasalah dalam diriku—kelak tentu akan menyusahkan—aku kurang mendengarkan orang lain dan terlalu banyak berbicara.
Ini sifat yang buruk, melihat Rasulullah SAW pun lebih sering mengingatkan kita untuk lebih banyak menyimak dan mengurangi bicara jika tidak penting (banyak ruginya). Pun setelah tak memimpin, kesempatan mendengarkan aku rasa lebih tenang untuk dijalani. Hidup selama 22 tahun, memiliki banyak persepsi. Bagi orang “sederhana” dengan pendidikan yang sederhana pula, umur itu sudah dikatakan tua dan yang belum menikah, telah matang menyandang gelar perawan tua. Namun bagi orang yang mengenyam pendidikan sepanjang rezekinya hidup, umur ini adalah tunas yang sedang dalam masa emas. Usia produktif yang sangat rugi jika tidak diberdayakan sebaik mungkin. Umur yang menjadi syarat masuk kerja ke sana-sini, syarat pertukaran pemuda di sana-sini, pun syarat jaminan masyarakat mengatainya “pemuda/i” yang jernih keras pemikirannya. Ide-ide di kepalanya sangat cemerlang. Semua orang di  usia 22. Pantaslah Taylor Swift menciptakan lagu “22”—padahal usianya kala itu telah menginjak 25.

Gagal Berkali-kali
By the way, tahun ini aku berencana untuk mendaki puncak Rinjani. Namun ternyata sama seperti tahun-tahun sebelumnya yang kujanjikan pada diriku sendiri, aku  kembali gagal: deadline pekerjaan merantai langkahku kali ini.
2011, aku sedang ada di Bali untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Merpati Putih ketika paman-pamanku mengajak dengan semangat 45 mereka. Ini awal mula kekecewaan “eqek” mereka padaku. Hahaa..
2012, menjadi Pimpinan Redaksi (Pimred) LPM Pena Kampus membuatku kembali harus mengurungkan niat untuk ikut mereka karena terbitan khusus Ospek menjadi tanggung jawabku kala itu. Paman-pamanku sedikit geram dan selalu mencekik leherku saat aku pulang ke rumah.  Mereka jahat, ya.. L
2013, lagi-lagi jabatan menghalangiku untuk pergi! Menjadi Sekretaris Umum (Sekum) tentu membuatku tidak dapat meninggalkan kampus karena kala itu aku menjadi delegasi sebagai panitia Ospek. Dan paman-pamanku mulai tidak peduli lagi dengan janjiku. Sungguh  menohok mereka itu. Sedih..
2014, tenang, kali ini bukan karena organisasi, melainkan akademis. Aku menjalani PPL selama satu semester dan kembali terurungkan niat menjemput Rinjani ke hati dan mataku. Aku hanya bisa menahan iri ketika kekasihku memamerkan foto-fotonya saat di Rinjani. “Namamu sudah naik dua kali, masa orangnya gagal-gagal terus mau naik?” ejek lelaki kesayanganku itu. Sekali lagi: menyedihkan.
2015, heihoo…. Aku sudah terbebas dari segala jenis kegiatan organisasi dan kuliah yang menjerat. Dan kami—aku, paman-paman, dan kekasih—sudah menyiapkan segalanya untuk berangkat H+2 lebaran. It was fun till me and my beloved got news about our jobs. And, no more words, we canceled it. Paman-pamanku hanya bisa bergeleng-geleng kepala. “Cukup. Lalo mesaq bae kau jemaq!” ujarnya kesal. Dan kami berdua ditinggal pergi.
Itu kisahku bersama Rinjani. Bagaimana denganmu? Ah, sudahlah. Selalu ada hikmah di balik semuanya. Aku percaya akan ada masanya untuk mendaki dengan tenang tanpa “gangguan” di kota ini. Mungkin memang belum rezeki, atau memang aku belum pantas untuk menginjakkan kaki di sana. Percaya atau tidak, banyak mitos yang terhembus tentang Rinjani di telingaku, membuatku semakin ingin pergi, namun harus ingat diri bahwa mendaki adalah suatu hal yang bukan main-main.
Satu hal yang perlu kutanyai dalam diri sebelum pergi: “Apa tujuanmu mendaki?” dan mungkin Tuhan ingin aku menjawab itu dengan baik sebelum diizinkan mengenal ciptaanNya yang Maha Indah. Tuhan So Sweet banget, sih.. Terima kasih atas kado indahnya tahun ini—refleksi diri untuk lebih mendengarkan daripada berbicara, juga pertanyaan dariMu yang harus aku jawab. #peluk

Senin, 29 Juni 2015

Belajar Dari Flashdisk



Dibeli seharga Rp.200.000,- dengan kapasitas 2GB, awal memiliki flashdisk semasa SMP memang sangat bergengsi. Tahun 2006, kala itu memang perangkat portable ini masih menjadi stuff langka untuk dimiliki. Orang-orang jaman itu masih lebih nyaman menggunakan disket. Namun, aku yang bergaul dengan “a-be-ge hedon” ini tak kuasa untuk tidak mengikuti arus membeli flashdisk sebagai alat simpan file.
Namun, apa istimewanya flashdisk ini? baik, yang istimewa bukanlah harga, kapasitas, maupun kenangan hedon yang kujalani. Tetapi: kesetiaannya menemaniku selama hampir sembilang tahun! Mungkin menurut kebanyakan orang, ini adalah hal konyol yang tidak perlu dibanggakan. Tapi bagiku, sebuah kisah yang kujalani antara aku dan flashdisk adalah kisah yang selalu mampu membuatku tersenyum.
Ini flashdisk, tempat menyimpan file, biasanya sering tidak pernah diperhatikan oleh orang, apalagi ketika hilang. Orang lebih menyayangi isi data flashdisk tersebut ketimbang barang itu sendiri.  Sehingga, jika barang mungil ini hilang, ia tidak begitu dicari—bahkan mudah dilupakan.
Aku, bersama flashdisk ini, belajar arti takdir. Terasa sederhana, namun memang begitu adanya. Flashdiskku ini sering sekali hilang. Berkali-kali. Sampai aku lupa semua kejadian hilangnya barang penyelamatku ini. Salah satu kejadian yang kuingat adalah ketika flashdisk ini dihilangkan oleh kakak kelas di STM. Ia lupa mencabutnya di ruang jurusan. Kesedihan pertama yang kurasakan adalah itu flashdisk pertamaku dan aku tidak rela barang itu hilang. Aku tidak suka perubahan yang menyedihkan, apalagi kehilangan sesuatu yang sangat aku hargai.
Akan tetapi, anehnya, aku sama sekali tidak merasa kehilangan. Sungguh tidak merasa. Meski kenyataannya barang itu hilang, namun aku merasa ia tidak benar-benar hilang dan pasti akan kembali lagi. Berminggu-minggu kurasakan itu. Usaha telah kulakukan. Mencari ke Jurusan, ke kawan-kawan sebelumnya yang ikut ke sana, dll. Sampai akhirnya aku pasrah, dan tidak lagi mencari, tidak lagi berharap. Tiba-tiba, esoknya, flashdisk itu kembali! Itu hanya salah satu kisah yang  paling saya ingat. Yang lainnya, inti kisahnya sama, hanya beda kasus. Hahaa..
Saat kuliah, flashdisk itu makin menjadi-jadi dan liar. Aku pun semakin konyol dengan benda lucu ini. Gantungan flashdisk ini menjadi identitas lucunya! (guling-guling). Nah, sekarang, sama seperti kisah yang sudah-sudah, ia hilang lagi. Dan lagi, selalu, hatiku tetap merasa ia tidak benar-benar hilang. Semester delapan inilah aku merasakan kehilangan terlama. Perpisahan terlama. Sedih..
Sudah lebih dari satu semester ia hilang. Aku masih sering menanyakan keberadaannya di setiap kawan dan orang-orang yang permah meminjamnya. Tapi, tadi malam, salah satu kawanku mengeluarkan “kekasihku” dari tasnya! “Kan mbak yang kasih pinjam waktu setelah Lanjut XV itu. Lupa?” ujarnya. Iya, aku lupa.
Satu kesimpulan yang kudapati dari kisah ini. jika memang ia masih akan bersamaku, ia pasti akan kembali. Jika memang rezekiku masih panjang untuk bersamanya, ia pasti akan kembali. Jika memang masih ada harapan untuk kembali, hati ini pasti tenang. Hingga aku mengikhlaskannya dan mulai tidak memikirkannya, maka saat itu ia kembali. Aku rasa ini hanya simulasi Tuhan. Apapun yang terjadi dalam lakon hidup ini, Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara yang harus kita dengarkan. Percaya saja, janji Tuhan itu pasti. Dan, sedikit tidak, Ia pasti memberikan pertanda atas bukti cintaNya. Ia memudahkanku menjalani lakon karyaNya.  Terima kasih, flashdisk.

Selasa, 23 Juni 2015

Karena Saya Perempuan (?)



Sebelum saya dikata-katai sebagai orang yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, tidak mensyukuri anugerah Tuhan, dan lain-lain, izinkan saya mengatakan bahwa saya tidak pantas melecut api komando sebagai pemimpin. Mengapa demikian? Karena saya perempuan.
            Jika seluruh umat perempuan Indonesia “wajib” merayakan Hari Kartini, saya sendiri—hingga saat ini—malah sibuk mencari sebab mengapa perempuan Jepara ini berhak dirayakan ulang tahunnya setiap tahun oleh umat se-nusantara. Sehebat apa ia sehingga mengalahkan perempuan-perempuan era reformasi lainnya, begitu pula dengan pahlawan perempuan sebelum kemerdekaan.
            Kembali pada diri saya. Paragraf di atas hanyalah intermezo hari-hari. Sekedar membandingkan saja. Saya, mahasiswi semester enam di tahun ketiga menginjakkan kaki di rimba intelektual, sedang gamang akan masa depannya. Begitu banyak kesempatan yang bisa diraih, begitu luas pemikiran yang harusnya dapat dijamah dan dicetuskan ranting-rantingnya oleh tulisan, dan juga kodrat yang sebentar lagi (mau tidak mau) harus terpikirkan.
            Bagi mahasiswa yang bergelut di dua ruang; bangku kelas dan sekretariat organisasi, tentu lumrah mengalami hal seperti ini. Suatu kegamangan memilih dan menentukan langkah. Semua memiliki peluang untuk membawa masa depan lebih baik, namun tidak mungkin memijakkan kaki di dua pulau yang berjauhan. Sungguh kini saya harus mengenal siapa diri saya sebenarnya. Kuliah yang kini sedang berada di titik penentu semester kedepannya akan seperti apa, dan juga organisasi yang sedang di puncak. Inilah moment utama dalam kehidupan saya. Sebuah masa dimana hampir semua orang mengenal saya, baik secara personal maupun secara kepentingan.
            Namun, dari semua moment yang ada, haruslah saya memilih demi kejelasan masa depan yang harus dihadapi. Moment ini akan menjadi sejarah yang memiliki dua kemungkinan; segera dilupakan atau dikenang selamanya. Selalu ada dua kemungkinan. Lantas, di mana saya harus berpijak? Jenis kehidupan apa yang akan saya bangun sejak sekarang? Akankah saya lulus dengan cepat atau akan bersantai hingga terlena dengan gelar aktivis? Entah. Mari berfikir.
            Perempuan, dalam konteks feminis, ingin selalu didengar dan disetarakan pendapatnya dengan para maskulin. Jujur saja saya katakan bahwa saya tidak berpihak pada teori aneh itu. Agama saya telah menjelaskan bahwa perempuan adalah makhluk yang istimewa. Mereka bukanlah makhluk lemah yang harus dimanjakan dengan keseteraan. Dipaksa dilayani dengan kesetaraan. Tuhan sudah menempatkan kodrat dengan rapi nan elok. Jadi, untuk apa?
            Salah satu ke-ngotot-an perempuan dalam kesetaraan adalah menjadi pemimpin. Jika kaum feminis menjunjung tinggi pemikiran bahwa perempuan juga mampu memimpin layaknya laki-laki, saya katakan itu tidak! Hingga Tuhan memberi saya sebuah bukti nyata bahwa hal itu benar. Saya diberi kesempatan merasakan diri sebagai seorang pemimpin dalam sebuah organisasi yang tidak sembarangan; Pimpinan Umum LPM Pena Kampus. Seperti yang kita tahu bahwa sudah kodratnya laki-laki cenderung kepada kemampuan berpikir mereka dan perempuan berpisau pada perasaan. Itu benar. Dan perempuan selalu menyangkal hal itu karena takut dikatai lemah oleh lelaki. Saya akui, ketika perempuan sedang ‘ngambek’, mereka hanya ingin dibujuk ratusan kali hingga akhirnya mau mendengarkan penjelasan kaum laki-laki. Jika ada perempuan yang penyangkal itu, dengan keras saya katakan ia berbohong!
            Kembali pada sosok kepemimpinan. Menjadi pemimpin itu bukanlah hal mudah. Asal komando, asal suruh, asal marah-marah. Bukan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Salah satunya adalah pemikiran dan perasaan. Tidak saya pungkiri, selama menjadi pemimpin dalam organisasi ini, saya banyak menggunakan perasaan. Sehingga hal itu membuat saya tidak bisa jauh dari laki-laki dan ini bukan tanpa alasan. Saya harus berusaha keras memahami karakter laki-laki untuk menyesuaikan cara memimpin mereka. Saya sering berkumpul bersama laki-laki, bukan karena saya ingin dilihat populer di kalangan mereka atau menunjukkan bahwa saya seorang tomboi. Bukan. Hal itu saya lakukan karena hanya itu satu-satunya cara membaca kepemimpinan laki-laki. Bagaimana mereka berpikir, menyikapi suatu masalah, membicarakan wacana, hingga bergosip.  Dan saya menemukan banyak perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
            Tidak sampai disitu perjuangan saya untuk bisa ‘menyaingi’ laki-laki. Saya harus memaksakan diri untuk tetap diam dalam ketidaknyamanan ketika diapit oleh wacana yang seharusnya memang untuk laki-laki. Mereka tidak lagi menganggap saya perempuan karena sudah begitu sering perkumpulan itu saya ikuti. Kadang saya merasa aneh. Apa yang telah saya lakukan? Apakah ada kebanggaan dalam diri sehingga harus seperti ini demi menjalankan suatu kepemimpinan yang mumpuni? Dan inilah jawabannya: perempuan memang tidak layak menjadi pemimpin.
            Menjalani rutinintas topeng seperti itu membuat saya rindu dengan kawan-kawan perempuan saya. Mereka dulu sering mengajak saya hangout dan shopping. Sekedar berkumpul dan bergosip ala perempuan, bukan laki-laki yang selama ini saya ikuti. Terkadang memang menyiksa saat selesai kuliah, mereka tertawa ria beranjak dari kelas menuju tempat parkir sambil membicarakan planning sesama perempuan. Sedang saya membelok ke arah sekretariat demi memenuhi rasa haus akan informasi dari koran. Saya telah jauh berbeda dari mereka. Jadi jika saya merasa mereka tidak lagi mengajak saya, itu hal yang wajar. Bukan mereka yang berubah, sayalah yang menjauh dari kehidupan normal para perempuan.
            Ketika saya menuliskan hal ini, ketua BEM fakultas saya telah merundingkan sesuatu yang dulu sempat saya idam-idamkan; menjadi the next ketua BEM fakultas. Ia meminta saya ikut dalam pemilihan tahun ini. Tapi kembalilah terngiang tanggung jawab dan pengorbanan yang harus saya tempuh demi menjadi pemimpin, hal itu harus dipikir matang-matang.
            Ini mengingatkan saya pada tanggapan ibu ketika anak sulungnya ini bertanya, “Boleh ndak masuk organisasi ini?” dan beliau balik bertanya pada saya, “Apa yang bisa kau berikan untuk organisasi itu?” lalu percakapan itu terhenti dengan daftar jawaban di hati dan pikiran saya. Ibu tidak mengharapkan jawaban lagi. Dan ternyata jawabannya adalah WAKTU.
            Saya hanya bisa memberikan waktu saya untuk setiap kegiatan yang saya jalani. Atas semua hal yang telah saya pilih sebagai catatan hidup. Selama 24 jam sehari, saya harus membagi waktu dengan banyak aspek; keluarga, kampus, dan pacar. Jika menjadi Pimum Pena Kampus saja sudah menghabiskan waktu pagi siang sore saya di kampus, hal ini cukup menjadi kekecewaan bagi  keluarga saya. Khususnya ibu. “Perempuan itu baru boleh pergi kalo rumah sudah bersih.” “Sesibuk apapun kamu, ingat adik-adikmu.” “Sehebat apapun perempuan, akan tetap harus di dapur.” Dan masih banyak nasihat ala perempuan yang saya dapatkan dari beliau. Pun, sampai pada titik ini saya tak lagi mampu merumuskan kekata yang tepat untuk menggambarkan sebagaimana rumit hidup perempuan jika menjadi seorang pemimpin. Entah saya malas atau mungkin lelah. Anda mungkin tidak akan menemukan jawabannya secara tersurat.
            Dengan segala beban tanggung jawab pribadi sebagai seorang perempuan, dan juga kodrat perasaan yang Tuhan berikan, perempuan hanya akan mengorbankan dirinya dan keluarganya jika menjadi pemimpin. Kecuali ia mampu membunuh kehidupan pribadinya hanya untuk kepemimpinan satu periode. Yang berarti ia harus tidak peduli pada ibu dan adik-adiknya, memutusi pacarnya, dan membuang kawan-kawan perempuannya. Saya mengatakan ini pada diri saya sendiri. Mengapa? Karena saya perempuan.