Jumat, 17 Juni 2016

(BUKAN) EULOGI



Akhirnya aku menulis ini setelah sibuk dengan urusan dunia—sosial dan segala moralnya. Kali ini, tentang kita. Iya, kita. Kita tidak butuh berlama-lama setiap hari bertatap muka hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah sahabat selamanya. Yang penting kita selalu ada satu sama lain setiap kali dibutuhkan. Yeah, persahabatan adalah kepentingan. Aku tetap konsisten dengan pernyataan itu, sesuai dengan filem yang pernah digarap si Boleng: sahabat. Semacam itulah.
Mungkin jika Pakbren tidak meninggal, aku masih akan sibuk dengan dunia dan tidak menulis kisah ini dengan hati yang tertaut di atas awan, dan di tanah Bali. Di Lombok, hanya tersisa kita berdua, Ham. Semacam eulogi? Bukan. Ini bukan eulogi. Meski Pakbren sudah lelap berselimutkan tanah kelahirannya, ini tetap bukan eulogi.
Berapa lama kita sudah mengatai diri kita sahabat? Delapan tahun, mungkin. Aku mengingat satu ungkapan yang pernah diucapkan oleh Pakbren saat buka puasa bersama TeRENG 2012, “Emang kita temen? Hellauu.. kita sodara, keleeus…” dengan gayanya yang sinis dan terlihat konyol, ia tetap menyimpan cinta. Untuk kami bertiga. Manusia paling kaya—hati dan materi—diantara kami bertiga. Manusia paling tidak ingin repot. Manusia paling pandai membuka mataku—karena aku satu-satunya perempuan dan jika sedang curhat akan selalu menjadi bulan-bulanan paling empuk.
Kita hampir delapan tahun berproses bersama dalam kehidupan panggung. Karena kita mulai saling mengenal dari panggung. Dari sekolah teknik. Haruskah aku mengenang semuanya? Dan mungkin ini akan menjadi eulogi. Tidak, aku tidak sedang menulis eulogi yang akan dibacakan dalam upacara pemakaman. Tidak lagi. Atau belum?
Kita, hampir kusadari, tidak memiliki potret bersama—empat orang gila. Meski kita pernah sama-sama berlakon dalam satu naskah “Tak Ada Bintang di Dadanya” pada Festival Teater Modern Pelajar (FTMP) 2009. Hamham dan Boleng sebagai murid durhaka dalam mimpi, Pakbren sebagai guru tua, dan aku sebagai isteri pak guru tua. Sebegitupun aku mengingat, memang tidak ada.
Kita hanya angkatan 2008 di Teater TeRENG yang berusaha tetap hidup di lingkaran meski terkadang ombak sosial menenggelamkan kita. Aku tahu, Boleng dan Hamham adalah yang paling kuat berdiri di atas arus urusan pribadi. Mereka hampir tetap ada. Pakbren pun demikian, meski tak jarang ia luput. Dan, yang membuatnya luput bukanlah urusan pribadi, melainkan penyakitnya. Penyakit yang membuatnya tidak berubah. Tetap mencintai kita semua dalam balutan kesinisan dan kengotototannya.
Sejujurnya aku tak sanggup lagi mengenangnya lebih jauh. Ini hanya akan seperti biografi singkat yang diinginkan orang-orang. Namun tidak olehku sendiri. Aku mengenang kalian bertiga sebagai pelengkap hidup. Aku merasa tak lagi butuh pendamping hidup bila bersama kalian. Namun tidak mungkin aku akan menikahi kalian, kan? Tentu tidak. Karena memang cinta yang untuk teman hidup bukanlah untuk kalian. Entah apa namanya, aku bahagia bersama kalian.

Ini di mabes. Awal masuk kuliah 2011. Taken by Hamhamtaro
Siapa yang mampu memberikan masukan dan pencerahan paling akurat tentang laki-laki jika bukan kalian? Hahaa.. aku tidak ingin mengikuti segala jenis saran dari kalian. Tapi di situ, aku menemukan cara yang tepat memperlakukan lelaki—tentu dengan kompilasi dariku sebagai perempuan. Selain itu, kacamata laki-laki sangat kubutuhkan untuk bertahan hidup. And I got it from you guys.
Delapan tahun bukan waktu yang panjang jika kita merasa tidak akan pergi kemana-mana dan pasti kembali. Kita tidak pernah risau dengan menghilangnya Boleng ke tanah Sumbawa, atau bahkan ke tanah kelahirannya di NTT sana. Karena kita tahu, ia akan kembali. Kita tahu ia akan ada di samping kita lagi. Begitu juga Pakbren yang sejak 2012 mulai sering berobat ke luar daerah. Hamham sering menjadi orang yang paling keras menjadikanya sebagai objek bullying. Namun itu jelas menunjukkan bahwa ialah orang yang paling mencintai Pakbren.
Sejak lulus sekolah, kita mengambil jalan terpisah. Seperti simpang empat yang menarik langkah kita untuk menjauh. Dan, kini, aku sudah tidak mampu lagi mengenang semuanya. Aku hanya merasa harus menulis. Berharap akan berlembar-lembar tulisan yang dapat kuhasilkan. Ternyata nihil. Tidak setebal atrikel jurnal ilmiahku. Kenangan itu telah terpepat di dalam hatiku. Aku hanya mengurainya sedikit agar nafas dan langkahku menjadi sedikit lapang.
Tahun ini kita benar-benar berpisah. “Awas kamu ndak selesaiin skripsimu tahun ini! apa lagi yang kamu cari di kampus, hah? Stop dah jadi aktivis-aktivis begitu. Saya tau kamu lama bukan karena bodoh, pinter dah kamu ayok. tapi pikirin juga kehidupan pribadimu. Jangan urus mereka terus!” Pakbren, itu kalimat terakhirmu. Dua hari sebelum aku ujian skripsi. Pun, aku belum sempat menepati janjiku untuk menemanimu belajar TOEFL, ya? Maafkan aku. Kau pun tak mampu menepati janjimu untuk hadir di acara wisudaku tahun ini. Aku memaafkanmu.
Seandainya aku lebih cepat, bisa lebih cepat. Mungkin tidak begini. Kita sudah benar-benar tidak bisa saling membuat janji. Kau sudah tidak bisa lagi menasehati aku perihal apa pun. Dan aku pun hanya bisa memandangi kekasihmu yang masih setia hingga saat ini. Kau selalu memujanya di hadapan kami. Setidaknya itu membuat kami lega, kau mendapatkan perempuan yang tepat. Dan kini, kami menasbihkan ia sebagai penggantimu. Pengganti kehadiranmu. Kami merasa kau selalu di sisinya.
Untuk si kribo sombong ini, aku kini benar-benar kehilanganmu jua. Maaf sudah meninggalkanmu di hari pentingku kemarin. Aku tahu kau sedang ada di simpang kejadian dalam satu waktu, dan aku tidak keberatan untuk tidak berharap. Mungkin diantara kita berempat, kitalah dua manusia paling sombong. Manusia paling berkutat dengan otak—karena Pakbren lebih sering menggunakan urat dan Hamham lebih membanggakan perutnya. Apapun kisahmu, aku banyak belajar. Ide-ide, rahasia-rahasia, lika-liku. Segalnya.
“Saya gak perlu ngasih pelukan hangat sebagai partner/sahabat walaupun saya ingin. Tadi saya ke kampusmu ama sofi nyariin kamu. Rencananya mau cabutin mawar merah setangkai dari rangkaian bunganya sofi. Tapi, kamu udah ngacir pulang duluan. Pencapaianmu harus saya hargai. Kamu hebat, wanita luar biasa. Selamat mamak, selamat sarjana. Selamat calon guru anak-anakku kelak. Big hug.” Dilanjutkan dengan pesan berikutnya, “Pamit da. See you at the top.” Bajingan mana yang berani berangkat ke Bali sehari sebelum perjanjian? Hanya kau! Pesan singkat yang kuterima setelah pulang dengan perasaan sok ikhlas karena merasa tidak diingat ternyata mengaduk seluruh batinku. Tahun ini kita kehilangan Pakbren secara fisik dan jiwa. Kini aku—dan Hamham—harus kehilangan fisikmu? Yaa Tuhan, ini benar-benar membuatku tersadar bahwa magnet simpang empat telah berperan dengan semestinya. Pada akhirnya kita memang akan melangkah sendirian.
Minggu kemarin, di acara buka puasa bersama TeRENG 2016, Hamham menyentakkan mataku dengan berkata, “Kamu ini, sekarang pukul-pukul perut saya. Besok kalo saya mati, ini yang kamu inget.” Memang dasar buntelan! Harus diakui memang kaulah manusia penetral dari kami semua. Laki-laki dengan selera humor tinggi dan terkadang serupa air es ketika Pakbren dan Boleng sedang beradu api. Atau sebaliknya? Hahaa.. kau adalah customer service terhebat masalah laki-laki. Sekarang tersisa kita berdua di sini. Boleng memang harus pulang ke pangkuan ibunya—yang telah rela melepas anaknya bertahun-tahun untuk tinggal di rumahmu. Mabes. Ya, mabes. Tenang, Ham. Rumahmu akan tetap menjadi rumah kita semua. Kebaikan dan ketulusan keluargamu mengajarkan kami arti keluarga yang sebenarnya. 
Sungguh, aku tidak mampu lagi menulis apa pun tentang kita. Ini bukan eulogi.


(ki-ka): Pakbren, Hamhamtaro, Boleng, and me—Mamak at Taman Budaya, aku lupa ini persiapan pentas apa. (maaf, ada adek iki sebagai sosok astral di belakang). Akhirnya aku menemukan ini. mungkin tidak murni kami berempat, namun cukup lengkap.



Rabu, 08 Juni 2016

GURU: ANTARA PENGASUH, PENGUSAHA, DAN PENDIDIK



            Ada segumpal kesedihan yang saya rasakan ketika membaca pernyataan Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, terkait pendidikan dalam halaman 10 Harian Suara NTB 28 Mei 2016. Betapa ternyata guru di zaman ini haruslah menerima kenyataan bahwa profesi mereka tidak lagi murni sebagai pendidik.
            Namun, ada pertimbangan serius; seleksi guru memang haruslah lebih ketat mengingat persaingan guru dan teknologi informasi semakin menjadi-jadi. Guru tidak lagi sebagai sumber ilmu, tetapi lebih sebagai rekan diskusi—selaras dengan Kurikulum 2013. Akan tetapi, sebuah kalimat menggelitik, “….guru honorer tidak bisa langsung diangkat menjadi guru PNS. Harus melalui pola seleksi,” menelurkan pertanyaan di kepala saya, apakah pengabdian para guru honorer tidak lebih layak menjadi pertimbangan daripada hasil tes para calon guru yang mengikuti seleksi CPNS? Entahlah. Yang jelas, di kepala saya, pengalaman tidak dapat ditipu—apalagi digantikan—oleh hasil tes CPNS, jika kelak pernyataan Jusuf Kalla ini “dikabulkan”.
            Sebagai mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, terjun langsung ke dalam dunia pendidikan dan melihat proses di dalamnya adalah hal wajib. Dari pengalaman tersebut, tentu tidak adil jika kelak para guru honorer tersebut harus kembali berkompetisi bersama mereka yang baru saja lulus—entah sebagai sarjana pendidikan atau yang mengikuti pendidikan profesi. Ibarat seorang dukun beranak yang kalah “pamor” dengan diploma kebidanan dalam hal legalitas praktik, bukan dari rekam jejak atau jam terbang mereka. Ya, seperti itulah.

Pengasuh
            Terlepas dari masalah perekrutan PNS tersebut, ada hal yang lebih menarik. “Guru Biologi Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 1 Bantaeng, Nurmayani Salam ditahan karena pencubitan…” betapa lucu kenyataan yang disuguhkan ke masyarakat tentang guru saat ini. Sudah tentu kita tidak bisa samakan dengan zaman sebelum-sebelumnya. Akan tetapi ada hal yang perlu digarisbawahi dalam permakluman ini; guru berubah karena siswa berubah, atau bisa juga sebaliknya. Dulu, dan dulu sekali, guru adalah sosok yang disegani—bahkan ditakuti. Penganggapan ini tidak dapat dilepaskan dari tindakan guru dalam mendidik.
            Setiap Senin setelah upacara bendera berlangsung, guru-guru akan melakukan razia rutin penampilan siswa. Kuku-kuku terpotong rapi, seragam rapi—dasi dan topi lengkap, kemeja dimasukkan ke dalam celana bagi laki-laki atau rok bagi perempuan, dan segala jenis kerapian lainnya. Jika ada yang ditemukan “melenceng”, maka penggaris sepenjang satu meter telah siap mendarat di pantat para siswa. Kegiatan tersebut, dilihat dari segi kekerasan, memang keras. Namun, dilihat dari segi manfaat, kami dibentuk untuk menjadi generasi disiplin dan peduli terhadap penampilan diri.
            Terlebih, “pemukulan” tersebut belumlah sebanding dengan yang didapat para anak di rumah mereka. Lalai mengerjakan pekerjaan rumah, sapu lidi sang ibu siap mengejar. Terlambat pulang ke rumah, jeweran sang ayah siap menanti di depan pintu. Hal tersebut adalah rutinintas biasa yang didapat anak-anak. Dan, tidak ada yang mempermasalahkan itu semua sebelum aturan Hak Asasi Manusia (HAM) masuk merecoki kehidupan pendidikan; baik di rumah maupun di sekolah.
            Biasanya, penghukuman atas hal kekerasan tersebut dijatuhkan kepada para pengasuh bayi dan anak-anak. Kini, jika hukuman tersebut telah jatuh kepada guru, apa bega guru dengan pengasuh? Ketika orangtua tidak suka dengan cara guru mendidik anak mereka, langsung libas dengan HAM! Apalagi menggunakan jabatan fungsional diri, sekarang ini sudah sangat mudah. Guru, sekolah, dan rumah bukan lagi dihubungkan sebagai orangtua kedua, rumah kedua, dan rumah utama, melainkan pengasuh, tempat penitipan anak, dan rumah.

Pengusaha
            Jika Jusuf Kalla menginginkan para calon guru diseleksi dengan ketat, mungkin karena ia tidak ingin meloloskan para calon yang berpotensi mengikuti jejaknya yang menjadikan pengusaha sebagai profesi sampingan disamping profesi utama. Tidak jarang para guru PNS kini yang melebarkan karirnya di jalur pengusaha. Ada yang membangun lembaga bimbingan belajar (bimbel), menjual buku-buku—baik buku pilihannya maupun buku yang ditulisnya sendiri, dan ada pula yang sekedar menjadikan predikat PNS sebagai “kartu nama” untuk mendapatkan proyek penelitian tindakan kelas (PTK).
            Hal tersebut dilakukan bukan karena gaji guru yang kurang. Sungguhlah tidak. Gaji guru PNS sekarang ini, ditambah dengan tunjangan sertifikasi, tentu tidak bisa dikatakan kurang untuk memenuhi hidup—kecuali memenuhi gaya hidup. Saya tidak berbicara mental, meski dalam kenyataannya hal tersebut memiliki kaitan. Tidak ada lagi Oemar Bakri. Semakin tebal pendapatan guru, semakin terbengkalainya kualitas siswa karena mengejar apa yang menurut mereka adalah hak. Hak sebagai pendidik. Mendidik di sana-sini. Ilmu diajarkan seadanya. Ketika evaluasi siswa menunjukkan hasil yang tidak sesuai target, pemerintah disalahkan. Media ajar kurang, padahal cara menggunakan uang sertifikasinya yang kurang ajar. Seperti kata pepatah, “Buruk rupa, cermin dibelah.” Ya, sudah, mental pengusaha lebih berkuasa dalam dirinya, maka menjadi guru ia tidak mampu.

Pendidik
            Mungkin predikat ini masih banyak kita lihat dalam diri para peserta program Indonesia Mengajar, Sarjana Mengajar daerah Terpencil, Tertinggal, Terluar (SM3T), dan para relawan pengajar yang tersebar di seluruh yayasan pendidikan dan komunitas-komunitas—salah satunya ada Komunitas 1000 Guru. Bagaimana tidak, mereka hadir di tengah-tengah anak miskin pendidikan. Mereka berbagi bersama anak yang memang membutuhkan. Bukan berhadapan dengan anak orang kaya yang memang sudah pintar namun masih tetap dicekoki pelajaran oleh orangtuanya. Bukan berangkat dari rumah dengan iming-iming ongkos penelitian yang salah sasaran. Apabila pemerintah masih kesulitan menyebarkan guru ke pelosok-pelosok, mungkin karena nepotisme dan egoisme masih mengikat mata mereka.
            Sebagai solusi, mungkin Jusuf Kalla harus membuka tangan untuk mereka yang memang menjadikan pendidikan sebagai jalan hidupnya. Mungkin, dan mungkin lagi, tes CPNS tidak perlu diadakan karena pengalaman mereka mendidik tidak diragukan lagi. Mereka tidak banyak berkutat dengan aturan-aturan negara tentang kurikulum. Mereka mengajar sesuai kebutuhan daerah tempat mereka mengajar. Sarjana Pendidikan (S.Pd) hanyalah penghargaan bagi mereka yang telah menempuh ilmu teknis nan formal terkait dunia pendidikan. Percayalah, pengalaman adalah guru terbaik.
            Kini, terlepas dari segala pandangan tentang guru, pengertian guru, tugas pokok guru, golongan keberapa itu guru, seluruhnya tidak akan menjadi penting jika guru tidak mampu membuat siswanya menemukan jati diri. Memanusiakan manusia.
(terbit di Harian Suara NTB, 16 Juni 2016)